Restoran fine dining “Fork and Flame” telah mendefinisikan ulang batas-batas masakan mewah dengan menempatkan api terbuka sebagai pusat filosofi kuliner mereka. Bukan sekadar alat pemanas, api di sini adalah instrumen presisi yang digunakan untuk Menjelajahi Hidangan Berkarakter kuat dan mendalam. Teknik memasak dengan api, mulai dari charring cepat hingga smoking lambat, menjadi ciri khas yang membedakan setiap sajian. Setiap hidangan di “Fork and Flame” adalah hasil dialog antara bahan baku premium dan elemen api, menjamin Menjelajahi Hidangan Berkarakter yang unik dan tak terlupakan, jauh dari citra makanan fine dining yang steril.
Pendekatan Fork and Flame terhadap api berakar pada metode tradisional namun dieksekusi dengan kontrol modern. Mereka menggunakan tungku arang khusus (custom-built charcoal ovens) yang memungkinkan koki mengontrol suhu dengan akurasi tinggi, bahkan ketika memasak langsung di atas bara. Kepala Koki, Chef Julian Pratama, yang merupakan lulusan Akademi Kuliner Le Cordon Bleu pada tahun 2010, menekankan bahwa kunci sukses adalah memahami jenis kayu dan arang. Mereka menggunakan kombinasi kayu hickory dan apple wood yang diimpor setiap bulan. Misalnya, untuk Wagyu A5 yang menjadi menu andalan, daging dipanggang selama 90 detik per sisi di atas bara panas tanpa nyala api, menciptakan lapisan bark renyah di luar dan bagian dalam yang tetap medium-rare sempurna.
Selain teknik panggang langsung, restoran ini juga unggul dalam teknik ember roasting, di mana sayuran akar diletakkan langsung di dalam abu panas selama berjam-jam. Proses ini memberikan rasa manis alami dan aroma tanah yang mendalam pada sayuran, mengubah bahan pendamping menjadi bintang di atas piring. Contohnya adalah Celeriac yang dipanggang dalam abu selama 4 jam dan disajikan dengan truffle hitam. Eksperimen suhu dan waktu ini secara konsisten memungkinkan tamu untuk Menjelajahi Hidangan Berkarakter yang berbeda dari pengalaman bersantap pada umumnya.
Komitmen terhadap kualitas juga terlihat dari manajemen dapur. Seluruh tim koki menjalani pelatihan khusus selama 40 jam penuh untuk menguasai manajemen risiko dan keamanan kebakaran, mengingat sifat dapur terbuka mereka yang berdekatan dengan api. Pelatihan ini dilakukan pada kuartal pertama setiap tahun. Selain itu, Fork and Flame bekerja sama dengan petani lokal untuk mendapatkan produk musiman. Pada bulan November 2024, mereka akan memperkenalkan menu baru yang menonjolkan jagung manis yang dibakar langsung di atas arang, menunjukkan dedikasi mereka dalam memadukan bahan-bahan lokal dengan seni api terbuka. Melalui perpaduan antara keahlian fine dining dan kekuatan elemen alam, Fork and Flame menawarkan pengalaman yang mendalam, di mana setiap hidangan menceritakan kisah tentang evolusi rasa yang diolah oleh kekuatan api.
